4 Beda Psikolog dan Psikiater dalam Terapi dan Pendekatan

Banyak orang yang salah kaprah dalam memahami beda psikolog dan psikiater. Sebenarnya perbedaan paling jelas dapat kita lihat dari cara keduanya dalam menghadapi pasien. Sejauh ini ada beberapa hal yang fundamental membedakan kedua profesi tersebut. Secara langsung kita mungkin tidak akan melihat perbedaan yang reflektif ketika keduanya tidak sedang memeriksa.

Psikolog Pencegah Seseorang Terbuang

Tentunya banyak hal yang membuat kita berprasangka terhadap seseorang bahwa dirinya terbuang dari masyarakat. Tapi, psikolog punya cara khusus untuk membentuk barrier yang akan melindungi orang dari keterbuangan sosial. Kalau boleh dikata, psikolog ini merupakan pengembala domba-domba yang tersesat secara sosial.

Akan tetapi psikolog tidak dapat melakukan pendekatan ataupun terapi klinis. Hal ini terkait dengan psikolog tidak memiliki otoritas untuk memberi obat klinis kepada pasiennya. Walaupun terkadang psikolog memiliki background medis, kebanyakan dari mereka tidak memilikinya. Tentu saja psikolog punya metode tersendiri dalam melakukan praktek dan terapinya.

Melihat fakta di lapangan, psikolog mempunyai jangkauan pasar yang cukup luas. Mereka biasanya membantu para narapidana untuk bisa kembali ke masyarakat dengan baik. Cara mereka menanamkan posisi dari para napi ini merupakan hal yang tidak mudah, mereka perlu benar-benar melakukan penelitian secara explisit sebelum melakukan tidak pendekatan.

Psikiater, Teman Saudara Kita yang Sakit

Seorang psikiater merupakan teman dari saudara kita yang alami gangguan jiwa. Meski gangguan jiwa saat ini sudah melenceng jauh dari substansinya. Dengan penggambaran karakter kejiwaan seseorang yang kompleks, psikiater akan melakukan terapi terhadap kawan kita ini dengan bantuan obat. Mereka punya otoritas memberi obat kepada pasien mereka sebagai dokter.

Seorang psikiater harus menjalani pendidikan kedokteran lantas lanjut menuju pendidikan dokter spesialis. Maka itu sangat jauh berbeda dengan psikolog yang tidak menempuh pendidikan dokter terlebih dahulu. Pasien dan ranah penanganannya juga berbeda. Kebanyakan, kedua profesi ini bekerjasama dalam memecahkan kasus yang unik ataupun menyulitkan.

Salah satu contoh kasus dimana psikolog dan psikiater bekerja sama adalah kasus pembunuh berantai. Ketika sang tersangka sudah ditangkap, dia akan dipelajari secara sosial maupun klinis. Namun, kasus seperti itu tidak banyak terjadi. Psikiater juga menangani kasus kecanduan narkoba. Tapi, kasus seperti itu hanya akan ditangani bila orang tersebut meminta.

Psikiater Punya Jangkauan Lebih

Seorang psikiater akan lebih jauh dalam melakukan terapi terhadap seseorang. Biasanya orang yang datang kesana memiliki kecenderungan untuk kembali lagi karna mereka membutuhkan asupan obat jangka panjang. Contoh kasus yang dihadapi oleh psikiater seperti bipolar, skizofrenia dan beberapa penyakit yang berkaitan dengan mental.

Sedangkan psikolog akan mengurus bagaimana seseorang berinteraksi dengan sekelilingnya. Masyarakat memang tidak selalu bisa menerima perbedaan dalam perjalanannya, tapi seorang psikolog juga mengetahui bagaimana watak dan budaya dari masyarakat tersebut supaya dapat memberikan celah yang tepat bagi pasiennya.

Sangat disayangkan ketika seseorang terbuang dari masyarakat hanya karena dia tidak mampu menempatkan diri sesuai dengan fungsinya. Padahal kita tahu bahwa society punya kecenderungan menolak tanpa mempelajari secara menyeluruh. Dalam dunia psikologi hal tersebut merupakan penolakan yang terjadi karena ketakutan (pada kasus narapidana).

Psikiater punya cerita yang berbeda. Mereka harus menyembuhkan pasien yang memang memiliki gangguan kejiwaan. Hal yang paling memilukan adalah banyak orang yang dibuang dari masyarakat, karena dia memiliki gangguan jiwa. Memang hal tersebut terkesan kejam namun, ketika seorang gelandangan memiliki gangguan jiwa masyarakat akan ketakutan.

Secara rinci beda psikolog dan psikiater sangat jelas terasa. Cara yang lebih mudah untuk memahaminya adalah ketika Anda memiliki gangguan jiwa pergi ke psikiater. Namun, bila Anda memiliki gangguan dalam komunikasi dengan sekitar Anda maka pergilah ke psikolog.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy